Nasib umat islam hari ini sungguh
malang sekali, Umat Islam telah ketinggalan dalam serba-serbi dan
semua bidang jika dibandingkan dengan kemajuan-kemajuan yang dicapai
oleh orang-orang kafir. Sejarah kegemilangan Islam zaman Rasulullah
dan para sahabat hanya tinggal sebagai pusaka antik untuk renungan.
Tidak ada lagi yang mau mengambil manfaat daripadanya dnegan mengkaji
dimana sumber kekuatan mereka supaya kegemilangan Islam dapat
berulang. Alhasil, hilanglah taring umat Islam, yang tinggal hanya
gusi tanpa gigi, untuk digunakan mengunyah nasi pun sudah tidak mampu
lagi.
Semua ini hasil dari sikap umat Islam
hari ini yang menolak dan tidak mempercayai persoalan-persoalan
kerohanian. sedangkan bila disebut persoalan kerohanian maka ia
berhubung kait dengan iman dan taqwa. Iman dan taqwalah yang telah
meletakkan umat Islam di zaman Rasulullah dan para sahabat ditahap
kemuliaan dan keagungan. Apabila umat Islam hari ini menolak
persoalan kerohanian maka bermakna mereka telah meletakkan diri dalam
lembah kehinaan.
Kedudukan umat Islam menjadi bertambah
hina apabila di bidang ilmu pengetahuan pun mereka mengambil dari
orang-orang kafir. Ilmu pengetahuan yang disusun oleh orang-orang
kafir tentulah disusun berdasarkan aqidah mereka. Akibatnya, umat
Islam yang tamat belajar dengan orang kafir dan diberi sijil dan
ukuran daya keintelektualan, selalunya akan menolak
persoalan-persoalan kerohanian. Bagi mereka kerohanian adalak puncak
kelembapan dan kemunduran tamadun umat Islam. Begitulah dangkal dan
dahsyatnya pikiran orang-orang yang berguru dengan orang-orang kafir,
yang benar jadi salah dan yang salah jadi benar.
Kononnya ilmu pengetahuan dari
orang-orang kafir boleh bawa kemajuan kepada umat Islam tetapi hingga
ke hari ini umat Islam masih berada dibawah tapak kaki orang-orang
kafir. Tidak bolehkah golongan yang mendapat 'title' intelektual
berfikir sejenak akan hakikat ini? Ampun maaf seandainya kata-kata
saya ini keterlaluan, tapi inilah kenyataan yang sedang berlaku
dihadapan mata kita. Hati mana yang bisa tahan melihat nasib umat
Islam ditimpa malang yang tidak sudah-sudah.
Dibidang ekonomi, umat Islam masih
berada dibawah cengkraman kapitalis yang tidak ubah bagai lintah
darat. Di bidang perobatan juga masih bergantung pada obat-obatan
buatan orang kafir yang boleh melemahkan urat saraf umat Islam
sendiri. Dibidang ketentaraan, orang kafir boleh menindas umat Islam
sewenang-wenangnya seperti apa yang berlaku pada umat Islam di Iraq.
Di bidang pemerintahan, Umat Islam ditentukan oleh kuasa veto di
Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB). Kenapa keintelektualan yang dianugerah
oleh orang-orang kafir tidak membela kembali maruah umat Islam ini?
Kenapa tidak digunakan keintelektualan itu untuk membina kembali
empayar Islam?
Jawabannya, sebenarnya keintelektualan
yang dianugerah oleh orang-orang kafir tidak akan dapat memulangkan
kembali maruah umat Islam! Saya bercakap bukan berdasarkan emosi atau
sembarang sentimen tetapi berdasarkan hujah dari Firman Allah SWT :
“Allah Pembela bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Al-Jathiyah:19)
Ilmu pengetahuan dari orang-orang kafir
memisahkan persoalan kerohanian (iman dan taqwa) dengan realiti
kehidupan. Sedangkan dalam Islam, kemajuan hidup hanya boleh dicapai
dengan adanya kerohanian. Justru itu, tidak ada kompromi diantara
ilmu pengetahuan umat Islam dengan ilmu pengetahuan orang-orang kafir
karna ia datang dari berlainan sumber. Ilmu pengetahuan umat Islam
bersumberkan dari yang hak, sedangkan ilmu pengetahuan orang-orang
kafir bersumberkan dari yang batil. Kalau ada pun sudut-sudut
kebaikan ilmu pengetahuan dari orang-orang kafir maka itu adalah
bersumberkan matan ilmu pengetahuan umat Islam dahulu kala yang telah
dicuri sewaktu berlaku perang salib.
Maruah umat Islam hanya akan terbela
apabila ilmu pengetahuannya diambil dari sumber yang hak yaitu dari
Allah SWT, yaitu ilmu pengetahuan yang boleh membawa kemajuan
lahiriah dan batiniah seperti ilmu yang dikurnia kepada wali-wali
Allah. Jangan saudara mengganggap ini suatu perkara lucu bila
dikatakan ilmu wali-wali Allah boleh membawa kemajuan lahiriah dan
batiniah. Ketahuilah bahwa kemajuan lahiriah dan batiniah yang
dicapai oleh umat Islam di zaman ummah pertama adalah bersumberkan
ilmu dari Allah yang dikurnia kepada Rasul dan nabi-nabi yang
dinamakan ilmu wahyu. Oleh itu tidak salah kalau saya katakan bahwa
ilmu wali-wali Allah yang dinamakan Ilmu Ilham yang juga bersumber
dari Allah boleh membawa kemajuan kepada umat Islam. Ini adalah karna
ilmu ilham adalah ilmu untuk memperkuat, memperbaharui dan mengingati
kembali ilmu wahyu. Ini bukan bermakna status ilmu wahyu itu lemah
tetapi pengamal -pengamal ilmu wahyu itu yang lemah. Kesempurnaan
ilmu wahyu telah diperjelaskan oleh Allah di dalam Al-Quran. Firman
Allah : “Pada hari ini Aku telah sempurnakan untuk kamu Agamamu”
(Al-Maidah : 3)
Walaupun ilmu ilham tidak menjadi
syarie ataupun pandangannya tidak wajib menjadi pegangan namun ilmu
ilham mempunyai peranan yang penting untuk membangunkan kembali
tamadun manusia. Gabungan antara ilmu wahyu dan ilmu ilhamlah yang
akan membangunkan kembali tamadun islam pada zaman ummah yang kedua.
Ilmu wahyu telah tamat dengan wafatnya Rasulullah SAW, tetapi ilmu
ilham senantiasa terbuka pintunya hingga ke akhir zaman sebagai
pertanda rahmat Allah supaya umat Islam tidak berterusan didalam
kelalaian.
Kemampuan ilmu ilham lebih canggih dari
sembarang alat ciptaan manusia yang dihasilkan oleh kemajuan sains
dan teknologi. Sekalipun satelit dikabarkan sebagai alat yang paling
berkesan untuk mengesan berita tetapi satelit hanya terbatas kepada
mengumpul maklumat-maklumat lahir saja dan terbatas pula jangkauan
tempatnya. Sedangkan ilmu ilham mampu mengumpul maklumat-maklumat
menjangkau hingga ke tempat-tempat yang tersembunyi dan mampu
mengumpul maklumat-maklumat yang tersurat dan tersirat sampai
mengetahui apa yang berada didalam hati manusia. Sabda Rasulullah :
“Takutlah kamu pada firasat orang mukmin, karna ia itu melihat
dengan nur Allah. (Riwayat Tirmidzi).
Keberuntungan dari Ilmu Ilham wali-wali
Allah
1, Dengan ilmu ilham wali-wali Allah,
segala rahasia yang sulit dapat dibongkar tanpa dapat disembunyikan
walaupun sehalus jarum. Umat Islam mendapat keberuntungan karna tidak
mudah dibohongi oleh musuh. Putar belit mereka sama ada dalam bidang
pendidikan, ekonomi, perobatan, ketentaraan atau sembarang bentuk
perhubungan umat Islam dengan mereka, semuanya dapat dibongkar.
Kemampuan umat Islam mengetahui rahasia yang tersembunyi boleh
menundukkan kesombongan orang-orang kafir yang senantiasa merasa
mereka serba tahu dan serba boleh dalam semua bidang.
Dengan ilmu ilham, Sayidina Abu Bakar
dapat mengetahui janin anaknya ketika berada didalam kandungan
istrinya lagi. Sayidina Usman bin Affan pula dapat mengetahui mata
Anas bin Malik telah melihat perempuan sebelum masuk menemui beliau.
“Masuk sekarang seorang lelaki dari kalangan kamu sedang pada
matanya terdapat kesan zina.”
Maka berkatalah Anas bin Malik, “Adakah
wahyu masih turun sesudah rasulullah SAW?”
Sayidina Usman menjawab, “Tidak ada
tapi takutlah pada firasat orang mukmin.
Dengan ilmu ilham Syaikh Abdul Kadir
Jailani telah dapat membongkar rahasia sumber yang emas yang
dihadiahi kepadanya oleh Khalifah Al-Mustanjid Billah. Suatu hari,
khalifah telah datang ke madrasah Syeikh Abdul Kadir membawa sekarung
uang emas sebagai hadiah untuk beliau. Syaikh Abdul Kadir enggan
menerima hadiah tersebut tetapi khalifah mendesak beliau menerimanya.
Lalu Syaikh Abdul Kadir mengambil karung tersebut dan ditekannya
dengan tangan maka keluarlah darah dari karung itu. Syaikh Abdul
Kadir berkata kepada khalifah, “Tuan ambil uang itu dengan memeras
orang ramai dan menghadiahkannya kepada saya. Ini menunjukkan tuan
telah memeras darah manusia. Mendengarkan penjelasan tersebut.
Khalifah itupun pingsan.
Dengan ilmu ilham wali-wali Allah, umat
Islam juga dapat membaca hati manusia dengan tepat seolah-olah
seperti seorang pembaca warta berita yang sedang membaca berita.
Keberuntungan ini memudahkan umat Islam untuk mentadbir manusia. Yang
dimaksudkan dengan mentadbir atau memimpin manusia ialah memimpin
rohnya. Roh yang berada didalam pimpinan ialah roh yang dapat
dibersihkan dari sifat-sifat mazmumah dan dihiasi dengan sifat-sifat
mahmudah. Untuk melakukan kerja ini bukan mudah melainkan bagi orang
yang mempunyai pandang tembus hingga dapat melihat rahasia hati
manusia. Bagi manusia yang berada di akhir zaman, hanya ilmu ilham
wali-wali Allah saja yang dapat menyelesaikan permasalahan ini.
Kemampuan membaca hati manusia membolehkan proses membina dunia baru
Islam terbina dengan segera.
Abu Said Al-Kharraz bercerita : “Pada
suatu hari aku masuk kedalam masjidil Haram dan aku melihat terdapat
seorang miskin yang padanya ada dua helai kain perca. Melihat
demikian, hati aku pun berkata : orang ini dan orang yang sepertinya
adalah orang-orang yang menjadi beban kepada manusia. Lalu orang
miskin yang aku pandang hina didalam hati memanggilku sambil berkata,
'Allah mengetahui apa yang berada didalam hatimu, hendaklah kamu
takut kepada-Nya.' dengan segera aku memohon ampun kepada Allah
terhadap apa yang berada didalam hatiku. Lalu orang tersebut
memanggil aku sekali lagi sambil berkata, 'Dialah Allah yang menerima
taubat hamba-Nya.' kemudian orang tersebut (wali Allah) menghilangkan
diri dan aku tidak melihatnya lagi sesudah itu lagi.”
2, Dengan ilmu ilham wali-wali Allah,
umat Islam dapat mengetahui segala peristiwa dunia sebelum berlaku.
Keberuntungan ini memberi peluang kepada umat Islam untuk membuat
persiapan atau bersiap sedia. Misalnya, dengan ilmu wali-wali Allah,
umat Islam dapat mengetahui bila akan berlaku ribut, taufan, kemarau,
banjir, gunung berapi akan meletus, kematian dan mengetahui bila
musuh akan menyerang. Kemampuan ini lebih canggih dan sophisticated
dari sembarang alat ciptaan hasil dari kemajuan sains dan teknologi
yang sering meleset dalam setiap kali membuat ramalan.
Ketepatan memberi malumat banyak
terdapat dalam kisah wali-wali Allaha. Uwais Al Qarni telah
memberitahu Maumun bin Mahran bahwa Sayidina Umar ibnu Khattab telah
wafat, sedangkan ketika itu Uwais berada di pinggir sungai Furat.
Tidak lama selepas itu, tersiarlah berita kewafatan Sayidina Umar
kepada seluruh umat Islam. Masa uwais memberitahu tentang kewafatan
Sayidina Umar sama dengan masa Sayidina Umar menghembuskan nafas
terakhir. Ilmu dari para intelektual manakah yang mampu memberi
maklumat yang tepat seperti maklumat yang telah diberi oleh Uwais
Al-Qarni? Kadang-kadang orang yang hendak mati dihadapan matapun
tidak dapat ditebak oleh ilmu pada intelektual.
Kisah bagaimana Allah turunkan ilham
kepada ibu nabi Musa a.s untuk menyelamatkan Nabi Musa dari keganasan
tentara-tentara Firaun sangat membuktikan kehebatan ilmu ilham. Nabi
Musa telah lahir pada masa Firaun mengeluarkan arahan kepada
tentara-tentaranya untuk membunuh setiap anak lelaki yang lahir karna
takut menggugat kuasanya. Untuk menyelamatkan nabi Musa, Allah telah
menurunkan ilham kepada Ibu Nabi Musa yang tertera didalam Al-Quran,
Sebagaimana Firmannya : “Yaitu ketika kami ilhamkan kepada ibumu
sesuatu yang diilhamkan. Yaitu : Letakkanlah ia (Musa) didalam peti,
kemudian lemparkanlah ia ke sungai (Nil), maka pasti sungai itu
membawanya ke tepi supaya diambil oleh (Firaun) musuh-Ku dan
musuhnya. Dan Aku telah limpahkan kepadamu kasih sayang yang datang
daripadaKu dan supaya kamu diasuh dibawah pengawasan-Ku. (Thaha :
38-39)
Syeikh Muhammad As Suhaimi, Seorang
wali Allah juga telah memberi satu maklumat yang tepat kepada ahli
keluarga dan anak muridnya melalui ilmu ilham yang dikurnia Allah.
Syeikh As Suhaimi berkata ketika beliau sedang menginap buat
sementara di kampung Marikan, Batu Tiga Dekat Seranggoon Road,
Singapura, “Nanti malam ada perarakan di jalan Seranggoon ini,
tetap kamu jangan keluar menontonnya.” Ahli Keluarga dan anak
muridnya sangat merasa heran mendengar perkataan tersebut karna
diberitahu ada perarakan tetapi dilarang pula pergi menontonnya.
Pada malam itu telah kedengaran bunyi
tembak menembak. Setelah hari siang maka dapatlah diketahui bahwa
suatu rompakan bersenjata telah berlaku di kawasan Geylang.
Perompak-perompak itu telah lari dikejar oleh pihak polis sambil
kedua-dua pihak saling tembak-menembak. Perompak-perompak itu lari
mengikut Paya Lebar Road, Macpherson Road dan terus ke Seranggoon
Road berhampiran dengan rumah Syeikh As Suhaimi. Perompak-perompak
itu terus dikejar dan akhirnya telah ditangkap selepas kejadian itu.
Setelah berlaku peristiwa tersebut, barulah ahli keluarga dan anak
murid Syeikh As Suhaimi faham tentang maksud perarakan yang dilarang
pergi menontonnya.
Banyak lagi keberuntungan-keberuntungan
dan kelebihan kelebihan yang dapat dikecapi oleh umat Islam dengan
ilmu ilham wali-wali Allah. Kalau tidak masakan ilmu ilham dapat
membangunkan ummah yang kedua apabila bergabung dengan ilmu wahyu.
Ini membuktikan bahwa ilmu ilham adalah ilmu yang tinggi. Sekalipun
martabat ilmu ilham berada dibawah ilmu wahyu, tetapi ia lebih tinggi
dari ilmu yang datang dari otak manusia.
Menggunakan ilmu dari otak manusia
semata-mata untuk memandu hidup manusia, hanya membawa kepada porak
poranda seperti apa yang berlaku sekarang. Semakin tinggi ilmu dari
otak manusia yang dicapai hingga dapat sampai ke bulan, semakin
banyak pula penyakit-penyakit kronik yang timbul dalam hidup manusia
dan semakin banyak berlaku pembunuhan, rasuah, zina, rompakan, dadah,
aids, peperangan dan seribu satu macam lagi penyakit yang tidak dapat
disebut disini.
Kata Lao Tse, “Pengetahuan yang lahir
itu buruk, sebab ia tidak akan membawa manusia sampai kepada
kebenaran yang sebenar-benarnya, dan kebenaran itu tidak akan dicapai
oleh manusia jika ia tidak berhubung langsung dan bercampur dengan
sempurna.” 'Tao' menurut istilah Lao Tse adalah Allah SWT pada kaum
muslimin. Justru itu, untuk memulangkan kembali ketenangan dan
kedamaian hidup manusia seperti zaman solafussoleh, ilmu ilham
wali-wali Allah yang bersumber daripada Allah SWT perlu digali semula
atau perlu diusaha untuk mendapatkannya semula.
Kaedah untuk memperoleh ilmu ilham
1. Mujahadah
Ilmu para wali Allah, para Rasul dan
Nabi itu datang dari dalam hati melalui pintu yang terbuka ke alam
malakut (lauhul mahfuz). Kedudukan hati dan lauhul mahfuz adalah
bersetentangan antara satu sama lain. Hati adalah ibarat cermin dan
lauhul mahfuz adalah ibarat gedung tempat menyimpan ilmu. Hati yang
bersih daripada sifat mazmumah adalah ibarat cermin yang berkilat
yang dapat menangkap masuk segala gambaran ilmu yang tersimpan di
lauhul Mahfuz. Inilah yang dikatakan ilmu ilham. Tapi hati yang
dipenuhi dengan sifat mazmumah adalah ibarat cermin yang berkarat
yang tidak menangkap sembarang gambaran dari lauhul mahfuz.
Justru itu, mujahadah membuang segala
sifat-sifat mazmumah dari hati dan berusaha menghiasinya dengan
sifat-sifat mahmudah perlu dilakukan dengan semaksimal yang mungkin
(cara bermujahadah telah dibentang dalam bab pertama).
Sabda Rasululah yang maksudnya :
“Bahwasannya ilmu itu diilhamkan kepada orang-orang yang berbahagia
dan tidak diberikan kepada orang-orang yang celaka.”
Ilmu ilham diperolehi bukan sebagaimana
kaedah para intelektual berusaha mendapatkan ilmu. Ilmu ilham
diperolehi dengan kaedah penyucian hari sehingga mencapai makrifah
dengan Allah. Semakin tinggi makrifah yang dicapa maka semakin
tinggilah rahasia-rahasia Allah yang akan dibukakan kepadanya seperti
seorang perdana menteri yang membeberkan rahasia-rahasia perancangan
kepada menteri-menterinya.
Mendapat ilmu ilham dengan jalan
mujahadah boleh diibaratkan seperti hikayat orang-orang Tionghoa yang
bertanding dengan orang-orang Rom untuk mempamerkan seni ukiran siapa
yang lebih indah dihadapan seorang raja. Juga untuk memastikan siapa
yang lebih handal dalam seni ukiran. Raja tersebut telah menyerahkan
satu dinding istana yang saling bertentangan diantara satu sama lain
yang disekat dengan tirai kepada setiap mereka.
Orang-orang Rom telah bekerja keras
mengumpul segala macam cat dari barat dengan jumlah yang tiada dapat
di hitung untuk menghasilkan ukiran yang paling indah. Sedangkan
orang-orang tionghoa tidak menggunakan sembarang cat, kerja mereka
setiap hati hanya menghilap dinding.
Ketika orang-orang Rom memberitahu
bahwa kerja mereka telah siap, orang-orang Tionghoa juga berkata
mereka telah siap. Lalu raja tersebut bertanya kepada orang-orang
Tionghoa: “Bagaimana kamu bisa siap mengukir sedangkan tiada
sembarang cat dan tiada sembarang ukiran?”
Jawab mereka, “Bukalah tirai itu
dulu”. Apabila dibuka, segala ukiran indah orang-orang Rom memancar
masuk ke dalam dinding orang-orang Tionghoa yang berkilat bagai
cermin yang telah mencetuskan seni ukiran yang lebih indah. Semua
hadirin menjadi tercengang melihat keindahan yang terdapat pada
dinding orang-orang Tionghoa. Akhirnya, kemenangan jatuh pada tangan
orang-orang Tionghoa.
Demikianlah juga kedudukan hati. Hati
yang senantiasa dibersih dan digilap adalah laksana cermin yang akan
menangkap segala gambaran ilmu yang berada di lauhul Mahfuz. Firman
Allah : “Mereka yang bersungguh-sungguh mujahadah pada kami, maka
akan kami tunjuki mereka akan jalan kami dan sesungguhnya Allah
beserta dengan orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Ankabut :69)
2. Ilmu dan Amal
Imam Ghazali berkata bahwa untuk
memperoleh ilmu ilham atau ilmu mukasyafah seorang itu perlu kepada
ilmu dan kemudian amalkannya, Sabda Rasulullah : “Barangsiapa yang
mengamalkan apa yang dia tahu niscaya Allah akan berikan ilmu yang
dia tidak tahu (Ilmu Ilham). (Riwayat Abu Naim).
3. Tareqat
Tareqat yang dimaksudkan disini ialah
tareqat dalam pengertian pertama yaitu melakukan amalan-amalan zikir
yang khusus yang berada dibawah pimpinan seorang guru. Amalan-amalan
zikir ini pula diterima oleh guru dari ulama. Ulama menerimanya dari
tabiit tabiin. Tabiit tabiin menerima dari tabiin. Tabiin menerima
dari para sahabat. Para sahabat menerimanya dari nabi Muhammad.
Seperti Tareqar Ahmadiah, Nakshabandiah, Qadariah, Kholidiah dan
sebagainya.
Apabila seseorang murid mempunyai
hubungan yang bersih, baik da licin dengan guru hingga sampai kepada
Rasulullah, maka itu bermakna murid itu berada didalam pimpinan.
Murid yang terpimpin ialah murid yang senantiasa terkawal lahir dan
rohaninya, dan mendapat ilmu ilham dari Allah yang dapat memandu
hidupnya. Kedudukan ini boleh diibaratkan seperti seorang yang
memasang batang pipa bersambung hingga sampai kepada Rasulullah. Air
dari atas akan mengalir kebawah samapai kepada kepala batang pipa
yang terletak pada murid tersebut. Maksudnya ilmu-ilmu dari Allah
yang mengalir kepada Rasulullah, kemudian kepada para sahabat,
tabiin, tabiut tabiin, ulama, gurunya dan akhirnya akan mengalir
sebagai ilmu ilham kepada murid tersebut.
4. Mengekalkan Tawaduk
Air hanya akan jatuh pada tempat yang
lebih rendah atau lubang. Air tidak akan jatuh pada puncak bukit dan
gunung. Maksudnya, air hanya jatuh pada tempat yang rendah dan tidak
jatuh pada tempat yang tinggi. Demikian juga dengan ilmu. Ilmu juga
hanya akan jatuh pada hati yang tawaduk atau rendah diri. Ilmu tidak
akan jatuh pada hati yang sombong dan bongkak. Oleh itu, mengekalkan
tawaduk adalah satu kemestian bagi setiap orang yang berkeinginan
memperoleh ilmu, lebih-lebih lagi bagi sesiapa yang berkeinginan
memperoleh ilmu ilham.
5. Doa
Firman Allah : “Berdoalah kepada-Ku,
niscaya akan Aku kabulkan. (Al-Mukmin :60) Sabda Rasulullah : “Doa
adalah senjata orang mukmin”. Kalau saudara merasa terlalu payah
untuk bermujahadah, terlalu payah untuk mencari ilmu dan
mengamalkannya, terlalu payah untuk bertareqat dan terlalu payah
untuk mengekalkan tawaduk maka jalan yang paling mudah untnuk kita
yang berada di akhir zaman ini ialah berdoa.
Berdoalah kepada Allah supaya
dipermudahkan bermujahadah, dipermudahkan mencari ilmu dan
mengamalkannya, dipermudahkan untuk bertareqat dan permudahkan untuk
mengekalkan tawaduk. Doa yang disertai dengan rasa kehambaan dan hati
yang hancur insya Allah akan mendapat perhatian Allah. Mudah-mudahan
ilmu ilham akan jatuh kepada hati saudara karna bersungguh-sungguh
berdoa. (Sumber buku “Bagaimana
menjadi wali” Karya Ust. Abd. Halim Abbas Hal 102-114 dengan sedikit edit kata")