Bagaimana menjadi wali bag. 2

Kaedah Melawan Hawa Nafsu
Allah SWT telah berfirman : “Orang-orang yang bermujahadah pada jalan kami, niscaya kami tunjukkan jalan kami. Sesungguhnya Allah bersama dengan orang yang berbuat baik.” (Al-Ankabut : 69)
dan dalam ayat ini yang lain Allah berfirman : “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan kefasikan dan ketakwaan) sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa (nafsunya) itu. Dan sesungguhnya rugi (celaka) lah orang yang mengotorinya.” (Asy Syams: 8-10)
Untuk mendapatkan iman, Allah memerintahkan kita supaya melawan nafsu. Karna nafsu yang bersarang dihati itu senantiasa mengajak kita supaya mendurhakai Allah. Firman Allah :“Sesungguhnya nafsu (Amarah) itu sangat menyuruh yang jahat.” (Yusuf : 53). Dalam usaha melawan nafsu itu kita dikehendaki menempuh tiga peringkat :
  1. Takhalli (Mengosongkan atau membuangkan atau mensucikan);
  2. Tahalli (Mengisi atau menghiasi);
  3. Tajalli (Terasa kebesaran dan kehebatan Allah).
Takhalli
di peringkat takhalli kita mesti melawan dan membuang terus semua kehendak-kehendak nafsu yang rendah dan dilarang Allah. Selagi kita tidak mau membenci, memusuhi dan membuangnya jauh-jauh daripada diri kita, maka nafsu itu akan senantiasa menguasai dan memperhambakan kita. Bersabda Rasulullah SAW :
“Sejahat-jahat musuh engkau ialah nafsu engkau yang terletak diantara dua lambung engkau” (Riwayat AL-Baihaqi)
karna kejahatannya itu, telah ramai manusia yang ditipu dan diperdayakan untuk tunduk bertuhankan hawa nafsu. Firman-Nya “Apakah tidak engkau perhatikan orang-orang yang mengambil hawa nafsu menjadi Tuhan, lalu dia disesatkan Allah.” (Al Jaathiyah: 23)
Apabila nafsu dibiarkan menguasai hati, iman akan tiada tempat dihati. Bila iman tidak ada, manusia bukan lagi menyembah Allah, Tuhan yang sebenar-benarnya, tetapi menyembah hawa nafsu. Oleh itu usaha melawan hawa nafsu janganlah dianggap ringan. Ia adalah satu jihad yang besar. Ingatlah sabda Rasulullah SAW kepada para sahabat ketika baginda berangkat pulang dari satu medan peperangan :
kita baru balik dari satu peperangan yang kecil untuk berhadapan dengan peperangan yang lebih besar. Bila sahabat-sahabat bertanya, “Peperangan apakah itu?” Baginda berkata: Peperangan melawan hawa nafsu. (Riwayat Al-Baihaqi)
Melawan hawa nafsu sangatlah sukar. Barangkali kalau nafsu itu ada diluar jasad kita dan boleh pula dipegang senanglah kita pijit-pijit dan membunuhnya sampai mati. Tetapi nafsu kita itu ada dalam diri kita, mengalir bersama aliran darah, menguasai seluruh tubuh kita. Karna itu tanpa kesadaran dan kemauan yang sungguh-sungguh, kita pasti dikalahkan untuk diperalatkan semau-maunya.
Nafsu manusia itu mempunyai beberapa peringkat, sebagaimana iman yang juga berperingkat-peringkat. Seorang yang dapat mengalahkan nafsunya akan meningkat ke taraf nafsu yang lebih baik. Begitulah seterusnya, hingga nafsu manusia itu benar-benar dapat ditundukkan pada perintah Allah.
Berikut ialah peringkat-peringkat nafsu. Saya utarakan dari peringkat yang serendah-rendahnya:
  1. Nafsu Ammarah
  2. Nafsu Lauwamah
  3. Nafsu Mulhamah
  4. Nafsu Muthmainah
  5. Nafsu Rodhiah
  6. Nafsu Mardhiah
  7. Nafsu Kamilah
kita yang berilman ilmu ini baru berada ditaraf nafsu yang kedua yaitu nafsu lauwamah. Kita mesti berjuang melawan nafsu itu sehingga ia mau tunduk sepenuhnya kepada perintah Allah, yaitu paling minimal nafsu Muthmainah yang ada pada seseorang yang memiliki iman. Diperingkat ini, saja kita akan dapat menyelamatkan diri dari siksa neraka. Ini dinyatakan sendiri oleh Allah SWT dengan firman-Nya : “Hai jiwa yang tenang (nafsu mutmainnah), kembalilah pada Tuhamu dengan hati yang puas lagi diridhaiNya. Maka masuklah kedalam jamaah hamba-hambaKu. Dan masuklah kedalam syurga-Ku. (Al-Fajr : 27-30)
Nafsu jahat dapat kita kenali melalui sifat keji dan kotor yang ada pada manusia.dalam ilmu tasawuf, nafsu jahat dan liar itu dikatakan sifat Mazmumah. Diantara sifat-sifat Muzmumah ialah:
  1. Sum'ah
  2. Riya
  3. Ujub
  4. Takabbur (sombong)
  5. Hasad dengki
  6. Gila pujian (masyhur)
  7. Pemarah
  8. Dendam
  9. Bakhil
  10. Penakut
  11. Cinta dunia
  12. Gila Pangkat
  13. Gila Harta
  14. Banyak berbicara
  15. Banyak makan
  16. mengumpat
Sifat-sifat ini melekat di hati seperti daki melekat di badan. Kalau kita malas menggosok, akan bertambah menebal dan kuatlah ia bertapak. Sebaliknya kalau kita rajin meneliti dan menggosoknya maka akan bersihlah hati dan sucilah jiwa.Bagaimanapun untuk membuang sifat mazmumah dari hati tidaklah semudah membuang daki di badan.Ia memerlukan latihan jiwa yang sungguh-sungguh, didikan yang berterusan dan petunjuk dari guru yang mursyid ialah guru yang dapat membaca dan menyelami hati muridnya hingga ia tahu apakah kekurangan dan kelebihan murid itu. Malangnya di akhir zaman ini kita ketiadaan guru mursyid. Ini dinyatakan sendiri oleh baginda Rasulullah Saw; bahwa di akhir zaman hanya ada mubaligh, tetapi tiada guru yang mursyid.
Nasib kita hari ini umpama nasib anak ayam yang kehilangan ibu. Tidak ada yang akan memandu kita melalui jalan kebaikan yang ingin kita tempuhi. Meraba rabalah kita.Tetapi bagi orang yang mempunyai keazaman yang kuat untuk membersihkan jiwanya,dia tidak akan kecewa hanya karena tiada orang yang boleh mendidik dan memimpinnnya. Dia akan sanggup berusaha sendiri demi kesempurnaan diri dan hidupnya. Kalau ia sadar bahwa padanya ada sifat bakhil, maka ia berazam untuk mengikis sifat yang terkutuk itu. caranya: Ia akan coba membiasakan dan memperbanyakan derma, sedekah, hadiah dan lain-lain amalan yang berupa pemberian haknya kepada orang lain.
Saya petik beberapa ayat Al Quran dan hadits untuk menunjukkan Allah dan Rasul-Nya sangat menganjurkan sifat pemurah itu.
Firman Allah: “Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkan sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman diantara kamu dan menafkahkan (sebahagian) dari hartamu memperoleh pahala yang besar. (Al-Hadid :7)
Firman-Nya lagi: “Siapa yang mahu meminjamkan kepada Allah pinjamkan yang baik,maka Allah akan melipatgandakan (balasan) pinjaman itu untuknya,dan dia akan memperolehi pahala yang banyak. (Al-Hadid :11)
Bersabda Rasulullah Saw yang maksudnya: “Membantu perempuan janda dan orang miskin, samalah seperti berjihad pada jalan Allah dan seperti berpuasa siang hari dan beribadah di malam hari.”
Sebenarnya bukan saja hanya pada orang kaya dan berharta, bahkan orang miskin juga tidak mustahil dihinggapi penyakit bakhil. Karena itu dalam islam bukan saja itu boleh dilakukan dengan harta benda tetapi boleh juga dilakukan dengan cara lain.Cara-cara ini disamping mendidik akhlak mulia bagi semua orang juga memberi peluang pada orang miskin mengikis sifat bakhil di samping turut mendapat pahala sedekah. Allah swt berfirman: “Perkataan yang baik dan pemberian maaf, lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun. (Al Baqarah : 263)
Rasulullah saw pernah memberi garis-garis berikut dalam satu riwayat haditsnya: “segala perbuatan yang baik itu sedekah, senyuman kepada saudaramu itu sedekah”
Sabda Rasulullah saw: “Maukah aku kabarkan kepadamu amalan yang lebih tinggi dari derajat puasa, sembahyang dan sedekah. “Khabarkanlah” kata sahabat-sahabat Rasulullah lalu menjelaskan, Mendamaikan dua golongan yang bergaduh.”
dengan menggunakan panduan-panduan diatas, orang yang menyadari ada padanya sifat bakhil, boleh coba melatih diri untuk mengubahnya. Bila ada saja peluang untuk bersedekah dan sebagainya, jangan dibiarkan begitu saja. Paksalah hati untuk mengeluarkan harta atau bertindak memberi kebaikan kepada orang lain.
Diwaktu-waktu rasa bakhl itu terasa kuat bergantung dihati, waktu itulah perlawanan mesti dihebatkan. Keluarkan apa-apa yang disayangai itu segera dan banyak-banyak. Latihan ini akan jadi lebih berkesan kalau kita sanggup mengeluarkan harta itu semasa kita sendiri kekurangan.
Katakanlah kita didatangi oleh peminta-peminta. Diwaktu itu kita hanya ada Rp. 5000 didalam saku. Waktu itu paksa hati supaya mengeluarkan separuh dari yang ada. Tentulah berat, tetapi keluarkan juga. Insya Allah, kalau ini sanggup kita buat selalu, kita akan jadi seorang pemurah dan rasa bakhil akan lenyap terus dari hati kita.
Sifat takabur, sombong dan bermegah-megah adalah mazmumah yang patut sangat dikikis segera. Kalau tidak ia akan menutup semua jalan-jalan kebaikan yang mungkin bagi manusia. Hampir semua dari kita ada sifat sombong atau ego ini. Dan untuk membuangnya adalah susah sekali. Imam Ghazali berkata bahwa sifat ego itu hampir-hampir mustahil dapat dibuang semuanya dari jiwa manusia. Bagaimanapun kita perlu berusaha untuk mengurangkannya. Kita mesti coba merendah diri dengan memaksa hati untuk merasa dan mengakui kelemahan atau kekurangan kita sebagai manusia biasa. Dalam perselisihan pendapat atau keributan misalnya, coba rasakan kesalahan itu adalah pihak kita. Atau akuilah bahwa kita juga turut bersalah. Bukankah ada pepatah mengatakan, “Bertepuk sebelah tangan masakan berbunyi.”
kalau kita mampu dan berani mengakui kesalahan, akan mampu pulalah kita minta maaf. Dan hanya dengan meminta maaf saja dosa kita sesama manusia akan terhapus. Oleh itu perlu sangatlah kita melatih diri untuk melawan sifat sombong (takabur) itu.
Latihan yang lebih berkesan dari yang disebut diatas ialah biasakan diri tinggal bersama orang-orang yang dipandang rendah oleh masyarakat. Orang-orang susah, peminta sedekah, orang cacat dan siapa saja yang setaraf, kita dampingi dan gauli. Duduk, bercakap-cakap, makan minum dan tidur bareng bersama mereka. Waktu itu jiwa ego kita akan memberontak dan tersiksa sekali. Timbul rasa malu, kesal, terhina dan tersiksa sekali. Maklum kita sama merasa orang lain mengejek dan merendah-rendahnya. Biarkan saja. Bisikkan dihati, “memang kamu ini asalnya miskin dan hina. Berasal dari tanah dan akan menjadi tanah. Datang ke dunia dulu tanpa seurat benang dan sesen uang pun.”
kalaulah amalan ini dibiasakan, insya Allah sifat ego itu sedikit demi sedikit akan dapat kita buang dari hati dan ingatlah firman Allah :
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karna sombong) dan janganlah kamu berjalan dimuka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak suka seseorang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Luqman : 18)
Allah berfirman lagi :
Hai orang-orang yang beriman, janganlah satu golongan menghina golongan yang lain karena boleh jadi mereka yang hina lebih baik dari mereka yang menghina. Dan jangan pula wanita (menghina) wanita yang lain (karna) boleh jadi wanita yang dihina lebih baik dari wanita yang menghina. (Al-Hujurat :11)
Janganlah kita berjalan dimuka bumi dengan sombong karna kekuatan kita tentu tidak mungkin dapat membelah bumi dan ketinggian kita tentu tidak dapat menyamai bukit.
Satu lagi penyakit hati yang saya uraikan adalah takut, takut adalah penyakit jiwa yang perlu diberantas. Kalau tidak, ia akan senantiasa mengancam manusia, menyempit ruang hidup manusia, melemah malah terus menyekat kebebasan dan kemerdekaan manusia.
Rasa takut yang menguasai hati akan bertindak dalam berbagai bentuk, mengikut suasana yang dihadapi. Takut hanti, takut harimau, takut ular, takut penjahat, takut miskin, takut dikatain orang, takut menegakkan kebenaran, takut maksiat dan takutkan Allah.
Diantara rasa takut yang dijelaskan diatas ada rasa takut yang dilarang syariat, ada pula rasa takut yang disuruh oleh syariat. Perlu diketahui bahwa kedua-dua jenis takut ini tidak mungkin mengisi hati manusia dalam satu ketika. Kalau rasa takut yang dilarang syariat ada dalam hati. Maka rasa takut yang disuruh oleh syariat tiada. Sebaliknya kalau takut yang disuruh syariat mengisi ruang hati maka takut yang dilarang hilang tempatnya.
Tujuan melawan nafsu yang dianjurkan oleh syariat adalah untuk membuang segala rasa takut yang dilarang untuk diganti dengan rasa takut yang disuruh. Puncak rasa takut yang dikehendaki oleh syariat ialah rasa takut kepada Allah. Dengan arti takutan segala azab yang dijanjikan di dunia apaagi di akhirat.
Untuk itu, kita mesti melawan nafsu yang takut pada hantu, momok dan sebagainya. Setiap kali kita terserempak dengan suasana itu, jangan kita mengalah dengan nafsu. Kuatkan hati dan tanamkan keyakinan bahwa Allah saja yang layak kita takuti. Selebihnya itu lain hanyalah makhluk seperti kita yang tidak ada kuasa apa-apa.
Untuk lebih berkesan, coba ditengah malam kita pergi sendirian ditanah perkuburan atau tempat-tempat yang seram. Masya Allah! Tentulah takut. Takut itulah yang mesti kita lawan. Lawan dengan iman dan ilmu yang ada bahwa tidak ada suatu kuasa pun yang boleh memberi kesan melainkan kuasa dan izin Allah. Isikan hati waktu itu dengan dzikrulah. Sadar dan yakinkan diri bahwa Allah senantiasa bersama, Allah itu bersama kita. Allah sedang melihat apa yang kita lakukan, Allah maha mendengar apa yang kita katakan. Allah maha mengetahui segala masalah hati kita. Allah maha penolong, pembantu, penyelamat dan kasihan belas pada hamba-Nya yang mau mengikut jalanNya. Firman Allah : “Orang-orang yang bermujahadah (berjihad) pada jalan kami, akan kami tunjukkan jalan kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang yang berbuat baik. (Al-Ankabut :69)
Lakukan latihan ini dengan tawakal dan doa yang sungguh-sungguh, agar Allah merestui dan memudahkan perjalanan kita dalam membuang rasa takut itu, dan diganti dengan ingatan dan keyakinan hanya pada-Nya.
Bagi orang-orang yang ingin menegakkan kebenaran tetapi takut dikata orang, takut dihina, takut di benci dan disingkirkan, juga wajib bermujahadah. Lawanlah rasa takut yang begitu dengan bertindak melakukan amalan tersebut. Misalnya kita takut hendak mengantar anak belajar di sekolah agama dengan alasan takut tidak dapat kerja, gelap masa depan disamping takut kan hidup yang kononnya ketinggalan zaman.
Cara melawannya ialah antarkan saja anak ke sekolah agama yang bimbingan itu. Kuatkan hati, pejamkan mata, pekakkan telinga dan lepaskan si anak pergi. Apa saja yang dibisikan nafsu dan syaitan kita lawan, jangan layani. Tawakal dan berdoalah kepada Allah semoga usaha ini di restui oleh Allah bukakan jalan-jalan kemenangan pada kita di dunia dan akhirat.
Bagi orang-oarang yang tidak melawan hawa nafsu, imannya tidak mungkin dapat bertambah, malah makin berkurang. Sama dengan mereka sadar atau tidak mereka telah diperhambakan oleh nafsu, mendapat kecelakaan dan kutukan Allah di dunia dan akhirat.
Sebenarnya apa yang ditakuti, baik hantu, maupun kemiskinan atau penghinaan orang pada hakikatnya tidak wujud sama sekali. Adakah hantu yang bertugas mencekik dan membunuh orang? Benarkah orang yang bersekolah agama miskin dan hina? Renungilah dan hayatilah hakikat ini. Kemudian sesuaikan pula dengan firman Allah: “Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu tolong Allah, Allah akan menolongmu dan Dia akan menetapkan kedudukanmu (Muhammad: 7)
Demi Allah yang tidak akan mangkir janji, yakinlah bahwa setiap usaha yang bertujuan mancari keridhaan-Nya pasti mendapat jaminan dan dimuliakan .
Seperkara yang harus kita sadar bahwa Allah yang Maha Pemurah dan Pengasih itu senantiasa bersedia untuk menolong siapa saja dari hampa-Nya.Ini karena telah ditetapkan-Nya bahwa untuk mendidik hati dan menambah iman itu perlu kita banyakkan latihan melawan nafsu, maka Allah sendiri selalu memberi peluang pada kita untuk berbuat begitu.
Mehnah atau ujian dari Allah yang selalu menimpa kita seperti miskin, sakit, kematian, kesedihan, kecacatan anggota, kekurangan rupa paras, lemah, bodoh, kata nista dan hasad dengki orang, bencana alam dan lain-lain kesusahan dan penderitaan adalah peluang yang Allah berikan untuk kita bermujahadah. semakin tinggi taraf iman seseorang semakin banyaklah ujian yang akan Allah datangkan. Demikian maksud sabda Rasulullah : “Bala paling berat akan ditimpa pada Nabi-nabi kemudian yang lebih mulia (aulia-aulia), kemudian yang lebih mulia selepasnya (ahli-ahli sufi) dan akhirnya diuji seseorang sesuai iman masing-masing. (Riwayat Bukhari, Ahmad dan Tarmizi)
Apabila jiwa dihimpit dengan kesusahan-kesusahan,artinya nafsu tercabar. Nafsu bakhil, sombong, penakut, dan lain-lain mazmumah itu menjadi sakit dan tersiksa setiap kali ditimpa ujian. Siapa saja, Islam atau kafir selagi hamba Allah, pasti merasakan demikian. Bagi orang-orang yang beriman, mereka sadar maksud Allah berbuat begitu. Setiap kali ditimpa ujian, ia cepat-cepat memberitahu hatinya bahwa kalau ia sabar dan redha dengan ujian itu ia pasti akan mendapat satu dari pada dengan ujian itu ia pasti akan mendapat satu daripada dua:
  1. Penghapus dosa atau
  2. Kasih sayang Allah dan pangkat derajat Syurga
Apabila itu diyakini sungguh-sungguh, bagi kita yang bertaraf iman ilmu tentu akan sanggup bermujahadah, memaksa nafsu untuk merasa tidak ada apa-apa dan tenang dengan penderitaan itu. Katalah kita miskin, maka pujuklah hati untuk tidak rasa apa- apa dengan kemiskinan. Kajilah kebaikan yang diperolah oleh orang miskin, didunia maupun di akhirat. Misalnya di dunia kita beruntung, tidak tamak, tidak bertanggung jawab membantu oran lain .Di akhirat pula hisab di kurangkan dan syurga dipercepatkan.
Kemudian ajaklah hati untuk menerima pemberian Allah itu dengan ridha, tanpa kesal dan berburuk sangka dengan Allah. Yakinlah bahwa Allah cukup tahu kenapa kita perlu miskin, sebab itu Dia berbuat demikian. Dan kita pula cukup lemah untuk mengetahui hakikatnya apa lagi untuk menangkisnya.Umpama baju, yang tidak pernah tau kenapa ia kadang-kadang di basuh, kadang-kadang di gosok, kadang-kadang dijahit, kadang-kadang dipakai dan kadang-kadang di buang.Maka begitulah kita, karena jahilnya kita tentang rahasia diri dan hati sendiri maka amat munasabahlah untuk kita ridha dan sabar dengan ketentuan Allah kepada kita.
Memang diperingkat mujahadah, hati masih sakit dan tidak puas hati. Jagalah supaya kita tidak gelisah, tidak mengungkit-ungkit, tidak mengadu-ngadu dan tidak buruk sangka terhadap Allah. kalau sifat ini dapat dikenalkan, insya-Allah peluang untuk meningkatkan iman adalah besar. Sebaliknya kalau setiap ujian dihadapi dengan keluh kesah, kebimbangan, tidak sabar, dan buruk sangka terhadap Allah, bersedialah untuk menanggung kegelisahan jiwa yang lebih perih dan penderitaan di akhirat yang amat pedih.
Keimanan yang tertinggi di kalangan para Nabi dan orang-orang Muqarrobin menjadikan mereka itu lebih senang hidup dalam kesusahan dari pada kesenangan. Mereka lebih inginkan kekurangan daripada kecukupan. Sebagai bukti lihat doa Rasulullah saw: “Wahai Tuhan, hidupkan aku dalam kemiskinan, matikan aku dalam kemiskinan dan kumpulkan aku dalam syurga bersama orang-orang miskin. (Riwayat At Tarmizi)
Sayidina Ali dalam sejarah hidupnya pernah di satu ketika hanya memiliki sebiji kurma untuk berbuka puasa. Namun tiba-tiba datang peminta sedekah meminta makanan dan terus diberikannya kurma yan sebiji itu.
Seorang perempuan di zaman Rasulullah yang mempunyai tiga orang anak lelaki, sanggup melepaskan semua anaknya ke medan perang. Dia senyum ketka anak sulung dan anak keduanya mati syahid dimedan perang. Tetapi menangis bila diberitahu anak bungsunya juga syahid.Bila ditanya kenapa dahulu senyum, sekarang menangis? Beliau menjawab: “Aku sedih karena tiada lagi anak yang boleh ku korbankan untuk jihad fisabilillah.”
Coba bandingkan kemampuan mereka dalam bukti diatas dengan kemampuan kita. Kemudian carilah faktor penting yang menjadikan perbedaan itu. Apabila disadari bahwa imanlah puncaknya maka tiada jalan lain untuk kita sampai setingi mereka selain dari membanyakkan latihan mujahadah dalam segala peluang-peluang yang Allah sediakan. Mujahadah melenyapkan segala mazmumah yang bermacam-macam. (Sumber Buku “Bagaimana menjadi wali” dengan sedikit edit kata-kata)

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...